Cerita Ramadhan di Rantau
Bulan Ramadhan tahun ini terasa berbeda bagi saya karena jauh dari orang tua dan sendirian di kamar kos, di tengah semangat berpuasa dan beribadah, saya mendapat kesempatan untuk bergabung dalam kegiatan sosial bersama Ikatan Tunanetra Kota Padang. Kegiatan ini diadakan di aula Masjid Raya, sebuah tempat yang teduh dan penuh berkah, tepat di jantung Kota Padang selama 3 hari. disana ada juga anak Pgsd seperti kak Annissa Olivia dll.
Hari ke 2 saya sedikit telat, saat saya datang, suara lantunan tilawah dan tawa kecil menyambut saya. Para anggota komunitas tunanetra duduk diatas kursi. Meski mereka tak bisa melihat dunia dengan mata, semangat dan kehangatan mereka sungguh terasa terang.
Saya duduk di samping Pak rahman seorang pria paruh baya yang sangat suka bercerita . Ia berkata, "Ramadhan adalah waktu terbaik untuk membersihkan hati, bukan hanya menahan lapar." Meski hidupnya penuh tantangan, tak satu pun keluhan saya dengar dari mulutnya hanya syukur, tawa, dan kisah-kisah perjuangan.
Di sudut aula, bang doni dengan sabar mendengar lantunan ayat suci dan saya mendekatinya lalu ia tersenyum dan sedikit bercerita,lalu ada dia ucapkan
"Kami memang tak bisa melihat matahari," katanya pelan, "tapi kami bisa merasakan hangatnya. Begitu juga dengan kebahagiaan."
Sore itu, menjelang waktu berbuka, kami duduk bersama menggelar takjil yang disiapkan panitia. kekeluargaan dan rasa syukur membuatnya terasa seperti hidangan istimewa.
Pulang dari kegiatan itu, saya merasa telah diberi pelajaran besar. Tentang menerima, bersyukur, dan menghargai hal-hal yang sering saya anggap biasa. Saya datang untuk membantu, tapi justru merekalah yang membuka mata hati saya.
Di bulan yang penuh cahaya ini, saya belajar bahwa kadang, mereka yang hidup dalam gelap justru paling tahu caranya menyalakan lampu terang dari dalam hati.
Sungguh pengalaman berharga yang tidak akan pernah saya lupakan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar